Jumat, 20 April 2012

Makalah Menyimak Efektif


NAMA DOSEN     : SURYADI RAHMAT  S.Pd. , M.Pd. MATA KULIAH   : MENYIMAK
M E N Y I M A K   E F E K T I F



NAMA : NUR AMALINA
  GEL. B  
NIM : 290250301102




UNIVERSITAS TOMAKAKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN T.A 2012




DAFTAR ISI 
 HALAMAN SAMPUL.............................................................................................. i 
 KATA PENGANTAR............................................................................................... ii 
 DAFTAR ISI............................................................................................................. Iii BAB I   PENDAHULUAN........................................................................................ 1 A.    Latar Belakang ................................................................................ 1 B.    Rumusan Masalah ........................................................................ 2 C.   Batasan Masalah ............................................................................ 2 D.   Tujuan Penulisan .......................................................................... 2 BAB II  PEMBAHASAN.......................................................................................... 2 A.   Hakikat Menyimak ............................................................................ 3 B.   Pengertian Menyimak ....................................................................... 4 C.   Tujuan Menyimak .......................................................................... 4 D.   Jenis – Jenis Menyimak .................................................................... 9 E.   Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Menyimak Efektif .......... 10 F.    Kendala Yang Menghambat Proses Menyimak Efektif .................... 14 G.   Cara Meningkatkan Keterampilan Menyimak Efaktif ....................... 17 H.   Prinsip – Prinsip Peningkatan Kemampuan Menyimak .................... 17 I.      Ciri –Ciri Penyimak Efektif Yang Ideal .............................................. 18 J.    Kegiatan Menyimak ...........................................................................  20 BAB III  PENUTUP.................................................................................................. 25 a.    Kesimpulan ................................................................................... 25 b.    Saran............................................................................................... 25

iii 
 KATA PENGANTAR 
 Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, atas limpahan Berkah, Rahmat serta hidayah-Nyalah sehingga kami dapat menyelesaikan makalah  ini dengan waktu yang tepat. Makalah ini berisi tentang “Menyimak Efektif” yang merupakan pembahsan dalam mata kuliah Menyimak  pada semester IV. Kami pun mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-basarnya apabila dalam penyusunan makalah ini masih terdapat kekurangan, oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat konstrutif  tetap kami harapkan untuk kesempurnaan makalah  ini dimasa yang akan datang. Akhirnya, semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua didalam menjalankan setiap aktivitas dan apa yang kami sajikan dalam makalah  ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Atas arahan dan bantuan dari semua pihak kami mengucapkan terima kasih, semoga mendapat balasan berupa imbalan yang setimpal dari Allah SWT, Amin…..


                                                                                               Mamuju, 04 April 2012
BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah
Betapa penting peran menyimak dalam kehidupan sehari-hari, kiranya tidak perlu diragukan lagi. Dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu dihadapkan pada berbagai kesibukan menyimak. Apalagi dalam era globalisasi seperti saat ini, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, masyarakat dituntut untuk mampu menyimak berbagai informasi dengan cepat dan tepat, baik melalui berbagai media, seperti radio, televisi, telepon, dan internet, maupun melalui tatap muka secara langsung. Berbagai lembaga, baik di lingkungan pemerintah maupun swasta, sering mendatangkan para pakar yang sesuai dengan bidang informasi yang dibutuhkannya untuk memecahkan masalah yang dihadapi melalui kegiatan rapat, ceramah, seminar, diskusi, debat, simposium, dan sebagainya. Dalam kegiatan semacam itu, peserta dituntut untuk memiliki keterampilan menyimak yang memadai.
Dalam proses interaksi dan komunikasi diperlukan keterampilan berbahasa aktif, kreatif, produktif dan resetif apresiatif yang mana salah satu unsurnya adalah keterampilan menyimak yang bertujuan untuk menangkap dan memahami pesan ide serta gagasan yang terdapat pada materi atau bahasa simakan.
Jika diperinci, minimal ada empat peran menyimak dalam kehidupan, yaitu sebagai landasan belajar bahasa, penunjang keterampilan berbicara, membaca, dan menulis, pelancar komunikasi, dan penambah informasi.
Apabila dibandingkan dengan aktivitas berbahasa  yang lain, aktivitas menyimak selalu melebihi kegiatan berbicara, membaca, dan menulis (hasil penelitian Paul T. Rankin: menyimak: 42%; berbicara: 25%; membaca: 15%; menulis: 11% ). Hal itu menunjukkan bahwa menyimak mempunyai peran yang penting. Untuk itu peranan keterampilan menyimak siapa saja sebagai suatu hal mendesak yang harus dilaksanakan
Dengan demikian menyimak sangat penting dalam proses belajar mengajar, oleh karena itu kami akan mencoba menyusun konstribusi ilmu menyimak dalam peningkatan upaya menyimak efektif.


B.     Rumusan Masalah
Dalam pembahasan makalah ini kami akan memfokuskan pada beberapa masalah di bawah ini:
1.      Faktor apa saja yang mempengaruhi keberhasilan menyimak efektif
2.      Tujuan apa yang akan di capai melalui keterampilan menyimak
3.      Manfaat apa yang akan diperoleh setelah belajar menyimak
4.      Mengetahui ciri – ciri penyimak ideal
C.    Batasan Masalah
Dalam batasan masalah ini kami akan membatasi masalah tentang ruang lingkup menyimak dalam peningkatan  uapaya menyimak efektif.
D.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.    mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi keberhasilan menyimak efektif.
2.    Untuk mengetahui ciri-ciri penyimak ideal




















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Hakikat Menyimak
Istilah mendengarkan, mendengar dan menyimak sering kita jumpai dalam dunia pengajaran bahasa. Ketiga istilah itu berkaitan dengan makna.
Peristiwa mendengar biasanya terjadi secara kebetulan, tiba-tiba dan tidak diduga sebelumnya. Karena itu kegiatan mendengar tidak direncanakan. Hal itu terjadi secara kebetulan. Apa yang didengar mungkin tidak dimengerti maknanya dan mungkin pula tidak menjadi perhatian sama sekali. Suara yang didengar masuk telingan kanan dan keluar dari telinga kiri. Dalam hal tertentu suara yang didengar itu dipahami benar-benar maknanya. Hal itu terbukti dari reaksi si pendengar yang bersangkutan.
Mendengarkan setingkat lebih tinggi tarafnya dari mendengar. Bila dalam peristiwa mendengar belum ada faktor kesengajaan , maka dalam peristiwa mendengarkan hal itu sudah ada. Faktor pemahaman biasanya juga mungkin tidak ada karena hal itu belum menjadi tujuan. Mendengarkan sudah mencakup mendengar.
Di antara ketiga istilah teraf tertinggi diduduki istilah menyimak. Dalam peristiwa menyimak sudah ada faktor kesengajaan. Faktor pemahaman merupakan unsur utama dalam setiap peristiwa menyimak. Bila mendengar sudah tercakup dalam mendengarkan maka baik mendengar maupun mendengarkan sudah tercakup dalam menyimak.
Peristiwa menyimak selalu diawali dengan mendengarkan bunyi bahasa baik secara langsung atau pun melalui rekaman, radio atau televisi. Bunyi bahasa yang ditangkap oleh telinga diidentifikasi bunyinya. Pengelompokannya menjadi suku kata, kata, frasa dan klausa, kalimat dan wacana. Lagu dan intonasi yang menyertai ucapan pembicarapun turut diperhatikan oleh penyimak. Bunyi bahasa yang diterima kemudian diinterpretasikan maknanya, ditelaah kebenarannya atau dinilai lalu diambil keputusan menerima atau menolaknya. Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan difinisi menyimak sbb :
“ Menyimak adalah suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menginterpretasi, menilai dan mereaksi atas makna yang terkandung di dalamnya. “ Menyimak melinbatkan pendengaran, penglihatan, penghayatan, ingatan, pengertian. Bahkan situasi yang menyertai bunyi bahasa yang disimakpun harus diperhitungkan dalam menentukan maknanya.

B.     Pengertian Menyimak
Menyimak adalah mendengar secara khusus dan terpusat pada objek yang disimak (panduan bahasa dan sastra Indonesia,

Pengertian menyimak menurut ahli
·         Drs. Natasasmita Hanapi. 1995: 18)
Menyimak dapat didefinisikan suatu aktivitas yang mencakup kegiatan mendengar dan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menilik, dan mereaksi atas makna yang terkandung dalam bahan simakan. (Djago Tarigan; 1991: 4).
·         Tarigan ( 1994 : 27 )
Pada kegiatan mendengar mungkin si pendengar tidak memahami apa yang didengar. Pada kegiatan mendengarkan sudah ada unsur kesengajaan, tetapi belum diikuti unsure pemahaman karena itu belum menjadi tujuan. Kegiatan menyimak mencakup mendengar, mendengarkan dan disertai usaha untuk memahami bahan simakan. Oleh karena itu dalam kegiatan menyimak ada unsure kesengajaan, perhatian dan pemahaman, yang merupakan unsure utama dalam setiap peristiwa menyimak. Penilaiannya pun selalu terdapat dalam peristiwa menyimak, bahkan melebihi unsur perhatian.
·         Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (dalam Sutari,1997:16),
Mendengar mempunyai makna dapat menangkap bunyi dengan telinga. Sadar atau tidak, kalau ada bunyi maka alat pendengaran kita akan menangkap atau mendengar bunyi-bunyi tersebut. Kita mendengar suara itu, tanpa unsur kesengajaan. Proses mendengar terjadi tanpa perencanaan tetapi datang secara kebetulan. Bunyi-bunyi yang hadir di telinga itu mungkin menarik perhatian, mungkin juga tidak. Mendengarkan atau menyimak merupakan proses menangkap pesan atau gagasan yang disajikan melalui ujaran.

C.    Tujuan Menyimak
·         Tujuan Menyimak Secara umum
Penyimak yang baik adalah penyimak yang berencana. Salah satu butir dari perencanaan itu ada alasan tertentu mengapa yang bersangkutan menyimak. Alasan inilah yang kita sebut sebagai tujuan menyimak. Menyimak pada hakikatnya adalah mendengarkan dan memahami isi bahan simakan Karena itu dapat disimpulkan bahwa tujuan utama menyimak adalah menangkap,memahami, atau menghayati pesan,ide, gagasan yang tersirat dalam bahan simakan.
Tujuan yang bersifat umum itu dapat dipecah-pecah menjadi beberapa bagian sesuai dengan aspek tertentu yang ditekankan. Perbedaan dalam tujuan menyebabkan perbedaan dalam aktivitas menyimak yang bersangkutan. Salah satu klasifikasi tujuan menyimak adalah seperti pembagian berikut yaitu menyimak untuk tujuan :
1.      mendapatkan fakta
2.      menganalisis fakta
3.      mengevaluasi fakta
4.      mendapatkan inspirasi
5.      menghibur diri
6.      meningkatkan kemampuan berbicara

a.      Mendapatkan Fakta
Pengumpulan fakta dapat dilakukan dengan berbagai cara. Para peneliti mengumpulkan atau mendapatkan fakta melalui kegiatan penelitian, riset atau eksperimen. Pengumpulan fakta seperti cara ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang terpelajar. Bagi rakyat biasa hal itu jarang atau hampir-hampir tidak dapat dilakukan. Cara lain yang dapat dilakukan dalam pengumpulan fakta ialah melalui membaca. Orang-orang terpelajar sering mendapatkan fakta melakui kegiatan membaca seperti membaca buku-buku ilmu pengetahuan, laporan penelitian, makalah hasil seminar,majalah ilmiah, dan populer, surat kabar, dsb. Hal yang seperti ini pun jarang dilakukan oleh rakyat biasa. Dalam masyarakat tradisional pengumpulan fakta melalui menyimak tersebut banyak sekali digunakan. Dalam masyarakat modern pun pengumpulan fakta melalui menyimak itu masih banyak digunakan.
Kegiatan pengumpulan fakta atau informasi melalui menyimak dapat berwujud dalam berbagai variasi. Misalnya mendengarkan radio, televisi, penyampaian makalah dalam seminar, pidato ilmiah, percakapan dalam keluarga, percakapan dengan tetangga, percakapan dengan teman sekerja, sekelas dsb. Kegiatan pengumpulan fakta atau informasi ini di kalangan pelajar dan mahasiswa banyak sekali dilakukan melalui menyimak. Fakta yang diperoleh melalui kegiatan menyimak ini kemudian dilengkapi dengan kegiatan membaca atau mengadakan eksperimen.
b.      Menganalisis Fakta
Fakta atau informasi yang telah terkumpul perlu dianalisis. Harus jelas kaitan antarunsur fakta, sebab dan akibat apa yang terkandung di dalamnya. Apa yang disampaikan pembicara harus dikaitkan dengan pengetahuan atau pengalaman menyimak dalam bidang yang relevan. Proses analisis fakta ini harus berlangsung secara konsisten dari saat-ke saat selama proses menyimak berlangsung. Waktu untuk menganalisis fakta itu cukup tersedia asal penyimak dapar menggunakan waktu ekstra. Yang dimaksud waktu ekstra adalah selisih kecepatan pembicaraan 120 – 150 kata per menit dengan kecepatan berpikir menyimak sekitar 300 – 500 kata per menit. Analisis kata sangat penting dan merupakan landasan bagi penilaian fakta. Penilaian akan jitu bila hasil analisis itu benar.

c.       Mengevaluasi Fakta
Tujuan ketiga dalam suatu proses menyimak adalah mengevaluasi fakta-fakta yang disampaikan pembicara. Dalam situasi ini penyimak sering mengajukan sejumlah pertanyaan seperti antara lain :
·         Benarkah fakta yang diajukan?
·         Relevankah fakta yang diajukan?
·         Akuratkah fakta yang disampaikan?
Apabila fakta yang disampaikan pembicara sesuai dengan kenyataan, pengalaman dan pengetahuan penyimak maka fakta itu dapat diterima. Sebaliknya bila fakta yang disampaikan kurang akurat atau kurang relevan, atau kurang meyakinkan kebenarannya maka penyimak pantas meragukan fakta tersebut. Hasil pengevaluasian fakta-fakta ini akan berpengaruh kepada kredibilitas isi pembicaraan dan pembicaranya. Setelah selesai mengevaluasi biasanya penyimak akan mengambil simpulan apa isi pembicaraan pantas diterima atau ditolak.

d.      Mendapatkan Inspirasi
Adakalanya orang menghadiri suatu konvensi, pertemuan ilmiah atau jamuan tertentu, bukan untuk mencari atau mendapatkan fakta. Mereka menyimak pembicaraan orang lain semata-mata untuk tujuan mencari ilham. Penyimak seperti ini biasanya orang yang tidak memerlukan fakta baru. Yang mereka perlukan adalah sugesti, dorongan, suntikan semangat, atau inspirasi guna pemecahan masalah yang sedang mereka hadapi. Mereka ini sangat mengharapkan pembicara yang isnpiratif, sugestif dan penuh gagasan orisinal. Pembicaraan yang semacam ini dapat muncul dari tokoh-tokoh yang disegani, dari direktur perusahaan, orator ulung, tokoh periklanan, salesman dsb.

e.       Menghibur Diri
Sejumlah penyimak datang menghadiri pertunjukan seperti bioskop, sandiwara, atau percakapan untuk menghibur diri. Mereka ini adalah orang-orang yang sudah lelah letih dan jenuh. Mereka perlu penyegaran fisik dan mental agar kondisinya pulih. Karena itulah mereka menyimak untuk tujuan menghibur diri. Sasaran yang mereka pilih pun tertentu, misalnya menyimak pembicaraan cerita-cerita lucu, banyolan percakapan pelawak, menonton pertunjukan yang kocak seperti yang dibawakan Grup Srimulat.

f.       Meningkatkan Kemampuan Berbicara
Tujuan menyimak yang lain yaitu untuk meningkatkan keterampilan berbicara. Dalam hal ini penyimak memperhatikan seseorang pembicara pada segi:
1.      cara mengorganisasikan bahan pembicaraan
2.      cara penyampaian bahan pembicaraan
3.      cara memikat perhatian pendengar
4.      cara mengarahkan perhatian pendengar
5.      cara menggunakan alat-alat bantu seperti mikrofon, alat peraga dsb.
6.      cara memulai dan mengakhiri pembicaraan
Semua hal tersebut diperhatikan oleh penyimak dan kemudian dipraktikkan. Menyimak yang seperti inilah yang disebut menyimak untuk tujuan peningkatan kemampuan berbicara. Cara menyimak untuk tujuan peningkatan kemampuan berbicara biasanya dilakukan oleh mereka yang baru belajar menjadi orator dan mereka yang mau menjadi profesional dalam membawa acara atau master ceremony.




·         Tujuan Menyimak Menurut ahli
a.       Menurut Tidyman & butterfield membedakan menyimak menjadi:
1.Menyimak sederhana
2.Menyimak diskriminatif
3.Menyimak santai
4.Menyimak informative
5.Menyimak literature
6.Menyimak kritis
Berdasarkan pada titik pandang aktivitas penyimak dapat diklarifikasikan:
1.Kegiatan menyimak bertarap rendah
2.Kegiatan menyimak bertaraf tinggi
b.      Menurut Gary T. Hunt
Menyatakan bahwa tujuan menyimak sebagai berikut:
1.   Untuk memperoleh informasi yang bersangkut paut dengan pekerjaan atau profesi;
2.   Agar menjadi lebih efektif dalam hubungan antarpribadi dalam kehidupan sehari-hari di rumah, di tempat kerja, dan di dalam kehidupan bermasyarakat;
3.   Untuk mengumpulkan data agar dapat membuat kesimpulan-kesimpulan yang masuk akal;
4.   Agar dapat memberikan respons yang tepat terhadap segala sesuatu yang didengar.
c.       Menurut  Lilian M. Logan
Menyatakan bahwa tujuan menyimak sebagai berikut:
1.   Untuk dapat memperoleh pengetahuan dari bahan ujaran pembicara, dengan kata lain menyimak untuk belajar;
2.   Untuk menikmati terhadap sesuatu materi ujaran, terutama pada bidang seni, dengan perkataan lain menyimak untuk menikmati keindahan audial;
3.   Untuk menilai bahan simakan ( baik-buruk, indah-jelek, tepat, asal-asalan, logis-tak logis, dan sebagainya;
4.   Untuk dapat menikmati dan menghargai bahan simakan ( penyimak cerita, puisi, musik dan lagu, dialog, diskusi, dan sebagainya ), dengan perkataan lain menyimak untuk evaluasi;
5.   Untuk dapat mengkomunikasikan gagasan-gagasan, ide-ide, perasaan-perasaan kepada orang lain dengan lancar dn tepat. Dengan kata lain, menyimak sebagai penunjang dalam mengkomunikasikan idea tau gagasan sendiri;
6.   Untuk dapat membedakan bunyi-bunyi dengan tepat, bunyi yang distingtif ( membedakan arti ) dan bunyi mana yang tidak distingtif. Ini biasanya diperoleh dari native speaker ( pembicara asli );
7.   Untuk dapat memecahkan masalah secara kreatif dan analitis dengan masukan dari bahan simakan;
8.   Untuk dapat meyakinakan diri sendiri terhadap suatu masalah atau pendapat yang diragukan, dengan perkataan lain menyimak persuasif.
d.      Menurut  Djago Tarigan
Menyebutkan tujuan menyimak sebagai berikut :
1.   Untuk mendapatkan fakta dengan cara mendengarkan radio, tv, menyampaikan makalah, percakapan, dan sebagainya;
2.   untuk menganalisis fakta yang berlangsung secara konsisten dari saat ke saat selama proses menyimak berlangsung;
3.   Untuk mengevaluasi fakta yang disampaikan oleh pembicara
4.   Untuk mendapatkan inspirai dari pembicara orang lain;
5.   Untuk menghibur diri
6.   Untuk meningkatkan kemampuan berbicara

D.    Jenis-Jenis Menyimak
Pengklarifikasian menyimak berdasarkan:
1)    Sumber suara
2)    Cara penyimak bahan yang disimak
3)    Tujuan menyimak
4)    Taraf aktivitas penyimak.
Berdasarkan sumber suara yang disimak, penyimak dibagi menjadi dua bagian yaitu:
1.    Intrapersonal listening atau menyimak intrapribadi
2.    Interpersonal listening atau penyimak antar pribadi
Berdasarkan pada cara penyimakan bahan yang disimak, dapat diklarifikasikan sebagai berikut:
1.      Menyimak ekstensif (extensive listening)
Menyimak ekstensif ialah kegiatan menyimak tidak memerlukan perhatian, ketentuan dan ketelitian sehingga penyimak hanya memahami seluruh secara garis besarnya saja.
Menyimak ekstensif meliputi
a)    Menyimak social
b)    Menyimak sekunder
c)    Menyimak estetik
2.      Menyimak Intensif
Menyimak intensif adalah kegiatan menyimak dengan penuh perhatian, ketentuan dan ketelitian sehingga penyimak memahami secara mendalam.
Menyimak intensif meliputi:
a)    Menyimak kritis
b)    Introgatif
c)    Menyimak penyelidikan
d)    Menyimak kreatif
e)    Menyimak konsentratif
f)    Menyimak selektif

E.     Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Menyimak efektif
1.      Unsur Pembicara
Pembicara haruslah menguasai materi, penuh percaya diri, berbicara sistematis dan kontak dengan penyimak juga harus bergaya menarik / bervariasi.
2.      Unsur Materi
Unsur yang diberikan haruslah actual, bermanfaat, sistematis dan seimbang.
3.      Unsur Penyimak / Pendengar
a.    Kondisi siswa dalam keadaan baik
b.    Siswa harus berkonsentrasi
c.    Adanya minat siswa dalam menyimak
d.    Penyimak harus berpengalaman luas
4.      Unsur Situasi
a.    Waktu penyimakan
b.    Saran unsur pendukung
c.    Suasana lingkungan


Menurut Hunt dalam Tarigan, (1987:97).
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses kegiatan menyimak efektif, yaitu:
(1) sikap,
(2) motivasi,
(3) pribadi,
(4) sistuasi kehidupan, dan
(5) peranan dalam masyarakat

Menurut Webb dalam Tarigan, (1987:97).
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses kegiatan menyimak efektif, yaitu:
(1) pengalaman,
(2) pembawaan,
(3) sikap atau pendirian,
(4) motivasi, daya penggerak, prayojana, dan
(5) perbedaan jenis kelamin
Menurut Logan dalam Tarigan, (1987:97-98).
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses kegiatan menyimak efektif, yaitu:
1.      Faktor lingkungan, yang terdiri dari lingkungan fisik dan lingkungan sosial,
2.      faktor fisik,
3.      faktor psikologis, dan
4.      faktor pengalaman
Berdasarkan ketiga sumber mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi menyimak, ketiga sumber tersebut mempunyai perbedaan dan persamaan. Setelah dibandingkan sumber tersebut, dapat dikatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi dalam proses kegiatan menyimak efektif adalah:
(1) faktor fisik,
(2) faktor psikologis,
(3) faktor pengalaman,
(4) faktor sikap,
(5) faktor motivasi,
(6) faktor jenis kelamin,
(7) faktor lingkungan, dan
(8) faktor peranan dalam masyarakat.

1)   Faktor Fisik
Kondisi fisik seorang penyimak merupakan faktor penting yang turut menentukan keefektifan serta kualitas dalam menyimak. Misalnya, ada orang yang sukar sekali mendengar. Dalam keadaan seperti itu, mungkin saja dia terganggu atau kehilangan ide-ide pokok seluruhnya. Juga secara fisik dia berada jauh di bawah ukuran gizi yang normal, sangat lelah, serta tingkah polahnya tidak karuan. Kesehatan serta kesejahteraan fisik merupakan modal penting dalam melakukan kegiatan menyimak. Lingkungan fisik juga mempengaruhi dalam menyimak, seperti ruangan terlalu panas, lembab atau terlalu dingin, dan suara bising dapat mengganggu orang yang sedang melakukan kegiatan menyimak.

2)   Faktor Psikologis
Tarigan (1987:100) menyebutkan bahwa faktor-faktor psikologis dalam menyimak mencakup masalah-masalah:
1)   prasangka dan kurangnya simpati terhadap para pembicara dengan aneka sebab dan alasan;
2)   keegosentrisan dan keasyikan terhadap minat pribadi serta masalah pribadi;
3)   kepicikan yang menyebabkan pandangan yang kurang luas;
4)   kebosanan dan kejenuhan yang menyebabkan tiadanya perhatian sama sekali pada pokok pembicaraan;
5)   sikap yang tidak layak terhadap sekolah, terhadap guru, terhadap pokok pembicaraan, atau terhadap sang pembicara.

3). Faktor Pengalaman
Latar belakang pengalaman merupakan suatu faktor penting dalam menyimak. Kurangnya minat dalam menyimak merupakan akibat dari kurangnya pengalaman dalam bidang yang akan disimak tersebut. Sikap-sikap yang menentang dan bermusuhan timbul dari pengalaman yang tidak menyenangkan. Misalnya, siswa tidak akan “mendengar” ide-ide yang berada di luar jangkauan pengertian serta pemahaman mereka.



4)   Faktor Sikap
Setiap orang akan cenderung menyimak secara seksama pada topik-topik atau pokok-pokok pembicaraan yang dapat disetujui dibanding dengan yang kurang atau tidak disetujuinya. Pada dasarnya manusia hidup mempunyai dua sikap utama mengenai segala hal, yaitu sikap menerima dan sikap menolak. Orang akan bersikap menerima pada hal-hal yang menarik dan menguntungkan baginya, tetapi bersikap menolak pada hal-hal yang tidak menarik dan tidak menguntungkan baginya.

5)   Faktor Motivasi
“Motivasi merupakan salah satu butir penentu keberhasilan seseorang. Kalau motivasi kuat untuk mengerjakan sesuatu maka dapat diharapkan orang itu akan berhasil mencapai tujuan” (Tarigan, 1987:103).
Dorongan dan tekad diperlukan dalam mengerjakan segala sesuatu. Dalam mengutarakan maksud dan tujuan yang hendak dicapai, bagi seorang guru merupakan suatu bimbingan kepada para siswa untuk menanamkan serta memperbesar motivasi mereka untuk menyimak dengan tekun.

6)   Faktor Jenis Kelamin
Berdasarkan beberapa penelitian, para pakar menarik kesimpulan bahwa pria dan wanita pada umumnya mempunyai perhatian yang berbeda, dan cara mereka memusatkan perhatian pada sesuatu pun berbeda pula.
Silverman dan Webb, misalnya, menemui fakta-fakta bahwa gaya menyimak pria pada umumnya bersifat objektif, aktif, keras hati, analitik, rasional, keras kepala atau tidak mau mundur, menetralkan, intrusif (bersifat mengganggu), dapat menguasai/mengendalikan emosi; sedangkan gaya menyimak wanita cenderung lebih subjektif, pasif, ramah/simpatik, difusif (menyebar), sensitif, mudah dipengaruhi/gampang terpengaruh, mudah mengalah, reseptif, bergantung (tidak berdikari), dan emosional (dalam Tarigan, 1987:104).






7)   Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan terdiri atas dua, yaitu lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Dalam lingkungan fisik, ruangan kelas merupakan faktor penting dalam memotivasi kegiatan menyimak, seperti menaruh perhatian pada masalah-masalah dan sarana-sarana akustik, agar siswa dapat mendengar dan menyimak dengan baik tanpa ketegangan dan gangguan. Para guru harus dapat mengatur dan menata letak meja dan kursi sedemikian rupa sehingga memungkinkan setiap siswa mendapat kesempatan yang sama untuk menyimak.
Lingkungan sosial juga sangat berpengaruh terhadap keberhasilan siswa dalam menyimak. Anak-anak cepat sekali merasakan suatu suasana dimana mereka didorong untuk mengekspresikan ide-ide mereka, juga cepat mengetahui bahwa sumbangan-sumbangan mereka akan dihargai. Anak-anak yang mempunyai kesempatan untuk didengarkan akan lebih sigap lagi mendengarkan apabila seseorang mempunyai kesempatan berbicara. Jadi, suasana dimana guru merencanakan pengalaman-pengalaman yang memungkinkan anak-anak dapat memanfaatkan situasi ruangan kelas untuk meningkatkan keterampilan berkomunikasi mereka.

8)   Faktor Peranan dalam Masyarakat
Tarigan (1987:107) menyatakan bahwa “banyak berjalan banyak dilihat; banyak disimak banyak diserap banyak pengatahuan.” Kemauan menyimak dapat dipengaruhi oleh peranan dalam masyarakat. Sebagai guru dan pendidik, dipandang perlu untuk menyimak ceramah, kuliah atau siaran-siaran radio dan televisi yang berhubungan dengan masalah pendidikan dan pengajaran. Sebagai seorang mahasiswa, diharapkan dapat menyimak lebih seksama dan penuh perhatian daripada sebagai karyawan harian pada sebuah perusahaan setempat. Jelaslah betapa pentingnya faktor peranan dalam masyarakat bagi peningkatan menyimak.

F.     Kendala Yang Menghambat Proses Menyimak Efektif
Hambatan dan kendala dalam menyimak banyak dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasan jelek. Seperti
a.       Menyimak lompat tiga, maksudnya perhatian penyimak melompat-lompat karena kecepatan berpikir menyimak kurang lebih 400 kata per menit sedangkan kecepatan berbicara hanya kurang lebih 200 kata per menit. Selain itu, menyimak daku dapat fakta, maksudnya penyimak berusaha menangkap satu dua fakta dan kehilangan fakta lainnya, sehingga penyimak tidak dapat bernalar dengan baik.
b.      Hambatan juga terjadi karena sering mengungkapkan penolakan secara gegabah terhadap sesuatu objek sebagian tidak menarik perhatian,
c.       Menyimak dengan pensil dan kertas di tangan, menyimak penjelasan-penjelasan yang sulit dicerna, melakukan kegiatan perhatian dengan berpura-pura.
d.      Kendala lain adalah faktor psikologi, selalu berprasangka dan kurang simpati terhadap pembicara, kegosentrian serta masalah-masalah pribadi, kurang luasd pandangan.
e.       Faktor motivasi
Ini berkaitan dengan pribadi seseorang, atau kesadaran diri.
f.       Keegosentrisan
Sifat mementingkan diri sendiri (egois) mungkin saja merupakan cara hidup bagi sebagian orang. Orang yang egois tidak akan bergaul dalam masyarakat dengan baik. Dia lebih senang didengar oleh orang daripada mendengarkan pendapat orang lain. Sifat seperti ini merupakan kendala dalam menyimak.
g.      Keengganan ikut terlibat
Keengganan menanggung resiko, jelas menghalangi kegiatan menyimak karena menyimak adalah salah satu kegiatan yang mau tidak mau harus melibatkan diri dengan sang pembicara. Bagaimana seseorang dapat menjadi penyimak yang baik kalau dia enggan atau tidak mau melibatkan dirinya dengan pembicara dan para penyimak lainnya. Keengganan ikut terlibat dengan orang lain memang merupakan suatu kendala dalam kegiatan menyimak yang efektif.
h.      Ketakutan akan perubahan
Perubahan dapat saja terjadi, tetapi perubahan yang kita harapkan adalah perubahan yang membawa keinginan. Orang yang takut akan perubahan, takkan bisa menjadi penyimak yang efektif. Apabila ingin menjadi seorang penyimak yang baik, jangan takut dan harus rela mengubah pendapat, bila perlu harus berani mengubah dan menukar pendapat sendiri kalau memang ada pendapat atau gagasan partisipan lainnya yang lebih unggul dan lebih dapat diandalkan. Orang yang takut akan perubahan tidak akan dapat mengalami kemajuan, karena dia sendiri hidup dalam suasana yang selalu berubah.
i.        Keinginan menghindari pertanyaan
Malu bertanya, sesat di jalan. Jika isi peribahasa ini kita pahami benar-benar, maka tidak akan ada alas an bagi kita untuk menghindari atau tidak mau menjawab pertanyaan orang lain. Dapat memberikan jawaban dan penjelasan atas pertanyaan orang lain, berarti kita telah membantu dia. Keinginan menghindari pertanyaan, dengan alas an takut nanti jawaban yang diberikan akan memalukan, jelas merupakan kendala dalam kegiatan diskusi, kegiatan berbicara, dan kegiatan menyimak. Kondisi internal ini harus diperbaiki kalau memang kita ingi menjadi penyimak yang efektif.
j.        Puas terhadap penampilan eksternal
Pada saat kita mengemukakan suatu pendapat, kita melihat partisipan mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum. Kalau kita terus merasa puas dengan tanda simpatik dan pengertian seperti itu, maka kita akan gagal menyimak lebih intensif lagi untuk kalau pengertian itu memang benar-benar wajar. Orang yang cepat merasa puas telah mengetahui maksud sang pembicara berarti tergolong penyimak yang tidak baik. Sifat lekas merasa puas terhadap penampilan eksternal, jelas merupakan suatu kendala atau rintangan dalam kegiatan menyimak efektif.
k.      Pertimbangan yang premature
Kalau ada sesuatau yang prematur, maka itu merupakan sesuatu yang tidak wajar. Segala sesuatu yang akan diutarakan para pembicara telah diketahui oleh penyimak yang mempunyai pertimbangan dan keputusan yang prematur. Ini adalah contoh penyimak yang jelek, dan sifat seperti ini justru menghalanginya untuk menjadi seorang penyimak yang afektif.
l.        Kebingungan semantic
Makna suatu kata tergantung kepada individu yang memakainya dalam situasi tertentu dan waktu yang tertentu juga. Kalau seorang penyimak yang tidak memahami hal ini, maka dia akan kebingungan dalam mengartikan kata-kata yang dipakai oleh sang pembicara. Kebingungan semantik ini jelas merupakan kendala serius bagi seorang penyimak. Bagaimana mungkin seseorang menyimak dengan baik, dapat menangkap, menyerap, memahami, apalagi menguasai isi ujaran, kalau dia tidak memahami makna kata-kata atau wacana yang dipergunakan oleh sang pembicara. Seseorang yang ingin menjadi penyimak yang efektif harus mempunyai kosa kata yang memadai.



G.    Cara Meningkatkan Keterampilan Menyimak Efektif
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan keterampilan menyimak efektif seperti berikut ini:
(1) bersikaplah secara positif;
(2) bertindak responsif;
(3) cegahlah gangguan-gangguan;
(4) simaklah dan ungkaplah maksud pembicara;
(5) carilah tanda-tanda yang akan datang;
(6) carilah rangkuman pembicaraan terlebih dahulu;
(7) nilailah bahan-bahan penunjang; dan
(8) carilah petunjuk-petunjuk nonverbal.

H.    Prinsip-prinsip Peningkatan Kemampuan Menyimak
Ada perbedaan dalam gaya belajar dari setiap jenis pembelajar. Semua gaya belajar memuat strategi-strategi belajar dan menggambarkan prinsip-prinsip belajar. Dari gambaran ini dan berdasarkan pengembangan keterampilan berbahasa, dapat ditarik beberapa garis panduan umum:
a.       Kemampuan menyimak meningkat melalui interaksi tatap muka. Melalui interaksi dalam bahasa Indonesia, pembelajar memiliki kesempatan untuk mendapatkan masukan bahasa yang baru dan kesempatan untuk mengecek kemampuan menyimaknya sendiri. Interaksi tatap muka menyediakan stimulasi untuk meningkatkan kemampuan memaknai bahan simakan.
b.      Kemampuan menyimak meningkat melalui pemusatan perhatian pada makna dan upaya mempelajari bahan yang penting dan baru dalam bahasa sasaran.
c.       Kemampuan menyimak meningkat melalui kegiatan pemahaman. Dengan memusatkan perhatian pada tujuan-tujuan khusus menyimak, para pembelajar memiliki kesempatan untuk menilai dan merevisi apa yang telah mereka capai.
d.      Kemampuan menyimak meningkat melalui perhatian terhadap kecermatan dan analisis bentuk. Dengan belajar memahami bunyi-bunyi dan kata-kata secara cermat pada saat melakukan aktivitas yang berorientasi pada makna, para pembelajar dapat memperoleh kemajuan. Dengan belajar mendengarkan bunyi-bunyi dan kata-kata secara cermat, mereka memperoleh keyakinan dalam memahami bahan simakan (Rost, 1991: 7).

I.       Ciri-Ciri Penyimak Efektif yang Ideal
Menurut Djago Tarigan (1983:4-13) mengatakan bahwa penyimak yang baik itu ada 14 jenis, sebagai berikut :
1.      Berkonsentrasi
Yaitu dapat memusatkan perhatian dan pikirannya terhadap apa yang disimak. Hal ini dapat membantu untuk menghubungkan bahan yang disimak dengan apa yang diketahuinya.
2.      Penyimak harus bermotivasi
Yaitu memiliki tujuan tertentu, misalnya ingin menambah ilmu pengetahuan, ingin mempelajari sesuatu, dan sebagainya. Hal ini dapat membuat penyimak menjadi bersungguh-sungguh dalam menyimak.
3.      Penyimak harus menyimak secara menyeluruh.
Artinya penyimak harus menyimak materi secara utuh dan padu
4.      Penyimak harus menghargai pembicara
Yaitu tidak boleh menganggap remeh orang lain, dalam hal ini adalah pembicara.
5.      Penyimak yang baik harus selektif,
Yaitu memilih bagian yang penting dari bahan simakan. Tidak semua bahan simakan diterimanya brgitu saja, tetapi ia dapat menentukan bagian mana saja yang dianggap penting.
6.      Penyimak harus sungguh-sungguh / Tidak emosi
Yaitu penyimak harus dapat mengendalikan emosinya dan tidak mencela pembicara.
7.      Penyimak tidak mudah terganggu
Yaitu penyimak harus focus terhadap bahan simakan dan tidak mudah terpengaruh oleh gangguan-gangguan dari luar seperti suara-suara dan sebagainya.
8.      Penyimak harus cepat menyesuaikan diri
Yaitu dengan cepat dapat menebak kemana arah pembicaraan akan berlangsung dan menduga garis besar isi penbicaraan.
9.      Objektif.
Yaitu selalu tahu apa yang sedang dibicarakan dan sebaiknya selalu menghargai pembicara walaupun pembicara kurang menarik penampilannya atau sudah dikenal oleh penyimak.
10.  Siap fisik dan mental.
Yaitu penyimak benar-benar menyiapkan diri untuk menyimak, misalnya menjaga kondisi badan yang sehat, tidak lelah, mental stabil, dan pikiran jernih.
11.  Kontak dengan pembicara
Yaitu memperhatikan pembicara, memberikan dukungan kepada pembicara melalui mimik, gerak, atau ucapan tertentu.
12.  Merangkum
Yaitu dapat menangkap isi pembicaraan atau bahan simakan dengan membuat rangkuman dan menyjikan atau menyampaikannya setelah selesai menyimak.
13.  Menilai
Yaitu proses penilaian terhadap materi yang disampaikan. Mengadakan tanggapan.
14.  Merespon
Yaitu mengadakan tanggapan atau reaksi misalnya dengan memberikan applaus maupun memberikan komentar.

Menurut Kamidjan dan Suyono (dalam Depdiknas 2002:17) menyatakan bahwa penyimak yang baik adalah penyimak yang memiliki tiga sikap berikut ini.
a.       Sikap objektif.
Sikap yang objektif adalah pandangan penyimak terhadap bahan simakan. Jika bahan simakan itu baik, ia akan menyatakan baik, demikian pula sebaliknya. Penyimak sebaiknya tidak mudah terpengruh oleh hal-hal di luar kegiatan menyimak, seperti pribadi pembicara, ruang, suasana, sarana, dan prasarana.
b.      Sikap kooperatif.
Sikap kooperatif adalah sikap penyimak yang siap bekerjasama dengan pembicara untuk keberhasilan komunikasi tersebut. Sikap yang bermusuhan atau bertentangan dengan pembicara akan menimbulkan kegagalan dalam menyimak. Jika hal itu terjadi, maka penyimak akan mendapatkan pesan dari pembicara. Sikap yang baik adalah sikap berkooperatif dengan pembicara.
c.       Bahan simakan.
Bahan simakan merupakan unsure terpenting dalam komunikasi lisan, terutama dalam menyimak. Yang dimaksud bahan simakan adalah pesan yang disampaikan pembicara kepada penyimak. Bahan simakan itu dapat berupa konsep, gagasan, dan informasi. Jika pembicara tidak dapat menyampaikan informasi dengan baik, maka pesan itu tidak dapat diserap oleh penyimak. Jika hal itu terjadi, berakibat terjadinya kegagalan dalam komunikasi lisan tersebut.
Siap fisik dan mental. Yaitu penyimak benar-benar menyiapkan diri untuk menyimak, misalnya menjaga kondisi badan yang sehat, tidak lelah, mental stabil, dan pikiran jernih.

Menurut budiman, (2008:2)
Penyimak yang baik apabila individu mampu menggunakan waktu ekstra untuk mengaktifkan fikiran pada saat menyimak. Ketika seseorang menyimak, perhatiannya tertuju pada objek bahan simakan. Pada saat itulah akan didapatkan proses menyimak yang efektif,

J.      Kegiatan Menyimak
1.      Proses menyimak komprehensif
Adapun komponen yang termasuk dalam proses menyimak:
a.       Rangsang bunyi
Weafer 91972) memasukan kata-kata, bunyi isyarat dan bunyi-bunyi lainnya sebagai tipe-tipe simbol bunyi yang dapat diterima dan dapat dimaknai oleh penyimak.
b.      Penerimaan alat peraga
c.       Perhatian dan penyelesaian
d.      Pemberian makna.
2.      Fungsi comprehensive listening
Fungsinya berkonsentrasi pada pesan-pesan yang disampaikan selanjutnya kaitan antara satu pesan dengan lainnya agar sampai pemahaman yang dikehendaki.
3.      Faktor-faktor yang berkaitan dengan menyimak konprehensif
a.       Memori
Adapun memori dalam diri kita memiliki tiga fungsi penting
·         Menyusun arah tentang apa yang akan kita lakukan dalam aktivitas
·         Memberikan struktur baku terhadap pemahaman kita kepada suatu aktivitas apabila konsep-konsep kita tersebut dikemukakan oleh orang lain
·         Memberikan arah/pedoman untuk mengingat pengalaman/ pengetahuan dan informasi-informasi yang telah diketahui sebelumnya.
Beberapa teori yang memberikan penjelasan tentang penyebab mengapa informasi yang disimpan dalam memori hilang (lupa)
·         Fuding teori (teori pemudaran): maksudnya informasi yang tidak sering digunakan akan memudar / perlahan-lahan hilang
·         Distortion theory: informasi yang mirip dengan informasi yang lainnya tidak dapat dibedakan, yang telah disimpan di ingatan
·         Superssion Theory: teori ini menyatakan pesan akan hilang akibat hambatan multivasional (melukai)
·         Interference Theory: teori ini menyatakan informasi yang telah di dapat sebelumnya akan bercampur dengan informasi yang baru didapat
·         Processing Break down theory: teori ini berpendapat bahwa tak satupun dari bagian-bagian informasi dapat diingat tanpa menggunakan sistem pengkodean makna ganda (sistem coding ambigu)
Menurut penelitian manusia akan lebih mengingat apabila informasi itu:
1)   Dianggap penting dan berharga atau berguna dalam kehidupan
2)   Dianggap lain dari pada informasi yang lain atau dianggap unik (tidak wajar)
3)   Terorganisir dan
4)    Berupa informasi visual
Menurut Montgo Mery ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar kita dapat meningkatkan daya mengingat kita. Kita harus memiliki keinginan kuat untuk meningkatkan daya ingatan, meningkatkan konsentrasi terhadap suatu pesan, dan peduli terhadap lingkungan dan orang-orang di sekitar kita.
b.      Konsentrasi
Salah satu alasan mengapa pendengar tak dapat berkonsentrasi pada sumber pembicaraan (penuturan) adalah kemungkinan karena sering berkomunikasi dalam rentang yang terlalu lama, sehingga keadaan seperti ini menuntutnya untuk membagi-bagi energi. Untuk memperhatikan antara berbagai ragam rangsang dan tidak merespon pada suatu rangsang saja. Alasan yang kedua adalah karena pendengar salah mengarahkan energi untuk memperhatikan (attention energy). Menurut Erving Goffman, bentuk standar dan kesalahan penafsiran meliputi hal-hal berikut:
1.      Pencakupan / pemenuhan eksternal, dibandingkan dengan berkonsentrasi pada pesan penutur, pendengar cenderung akan mudah terkacaukan perhatiannya oleh stimulasi / rangsang dari luar
2.      Kesadaran diri
3.      Kesadaran berinteraksi
4.      Kurangnya rasa ingin tahu terhadap apa yang sedang dibicarakan
Ada tiga alasan lain yang menyadari alasan kurangnya konsentrasi di atas diantaranya; kurangnya motivasi diri dan kurangnya tanggung jawab
c.       Pembendaharaan kata
Faktor yang mempengaruhi kemampuan komprehensif pendengar adalah ukuran kosa kata. Diasumsikan bahwa ukuran kosa kata merupakan variabel penting dalam pemahaman pendengar.
Dalam peran kita sebagai komunikator, kita memiliki empat jenis kosa kata fungsional yang sangat bervariasi ukurannya, jenis kosa kata itu dibedakan berdasarkan usia, saat seseorang melakukan komunikasi. Hal tersebut digambarkan sebagai berikut:
1.      Sampai kira-kira seseorang mencapai usia sebelas tahun kosa kata fungsional terbesar yang dimiliki adalah kosa kata simakan mendengar (listening vocabulary) artinya pengayaan kosa katanya pada fase ini dapat dan hasil simakan dari kehidupan sehari-hari
2.      Setelah lewat usia dua belas, kosa kata simakan yang seseorang miliki, umumnya dipengaruhi oleh kosa kata atau hasil membaca (reading vocabulary).
Orang dewasa dikatakan memiliki kosa kata minimum apabila ia hanya memilih rata-rata kosa kata sebesar 20.00 kata.
Untuk meningkatkan kosa kata umum maupun kosa kata mendengar menurut langkah-langkah Pauk dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.      Langkah pertama adalah menumbuhkan minat kata-kata. Ada dua kemampuan dasar yang dapat membantu kita untuk mempelajari kata-kata baru berdasarkan maknanya adalah kemampuan menganalisa struktur dan kemampuan menganalisa konteks kata keterampilan pertama tadi yaitu analisis struktur.
2.      Langkah yang kedua adalah mempelajari makna dari kata-kata yang tidak lazim dari konteks-konteksnya.
Ada 2 jenis petunjuk kontekstual yang utama dan telah umum dikenal yakni petunjuk sematik (makna kata) dan sintaksis (struktur kalimat), yang termasuk ke dalam petunjuk sematik adalah petunjuk sinonim, penjelas, deskripsi, contoh, kesimpulan, penjelas pengalaman, situasi, Petunjuk kontekstual kedua adalah petunjuk sintaksis berupa pola-pola penyusun kalimat yang menjadi penyusun suatu kalimat.
d.      Faktor-faktor tambahan
1.      Faktor kurang seringnya diadakan penelitian-penelitian yang terkontrol secara ilmiah
2.      Tak banyak mengenal paliditas dan realibitas tes mendengar yang diterapkan dalam penelitian
3.      Karena sebagian besar peneliti belum terkoordinir dengan baik.
Ada beberapa variabel yang mempengaruhi keefektifan menyimak konprehensif adalah usia, motivasi, intelgensia, tingkat pencapaian, kemampuan berbicara, pemahaman membaca, kemampuan belajar, kemampuan berbahasa dan cultural.
















BAB III
PENUTUP
  i.      Simpulan
Dari makalah ini dapat kita ambil kesimpulan yaitu:
1.   Antara mendengar, mendengarkan dan menyimak itu berbeda
2.   Menyimak merupakan tingkatan yang paling tinggi diantara kegiatan tersebut
3.   Menyimak merupakan keterampilan yang sangat di perlukan dalam semua kegiatan baik kegiatan akademik maupun kegiatan sehari-hari, terlebih dalam kegiatan pembelajaran bahasa.
4.   Setiap kegiatan menyimak mempunyai kegiatan yang berbeda-beda.
ii.      Saran
Penulis menyarankan kepada pembaca untuk mempelajari menyimak lebih mendalam agar kegiatan menyimak yang dilakukan berkualitas lebuh baik sehingga efektif dan efisien.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar